Metodologi Perhitungan

Transparansi itu penting. Halaman ini menjawab satu pertanyaan: bagaimana KalenderLengkap.id menghitung dan memverifikasi setiap jenis tanggal yang ditampilkan?

Metodologi Perhitungan Diperbarui: 26 Juli 2026
Berlaku untuk Semua perhitungan KalenderLengkap.id
Berlaku efektif 26 Juli 2026
Terakhir diperbarui 26 Juli 2026
Kontak halo@kalenderlengkap.id
Ditinjau oleh Tim Editorial KalenderLengkap.id
Prinsip Metodologi

Semua perhitungan dilakukan menggunakan aturan yang terdokumentasi dan dapat dijelaskan. Jika terdapat perubahan data resmi atau koreksi algoritma, halaman ini akan diperbarui.

Cara Menghitung Weton & Neptu

Weton adalah kombinasi hari (siklus 7 hari: Minggu–Sabtu) dan pasaran (siklus 5 hari: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Karena kedua siklus berjalan bersamaan, satu kombinasi weton berulang setiap 35 hari.

7Hari + 5Pasaran = 35Weton

Data yang digunakan:

  • Siklus tujuh hari (saptawara) — Minggu hingga Sabtu.
  • Siklus lima hari (pancawara) — Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.

Titik acuan: pasaran dihitung dari selisih hari terhadap sebuah tanggal acuan yang pasarannya sudah diketahui secara historis. Kami menggunakan tanggal acuan yang tervalidasi (lihat bagian Verifikasi), lalu mengambil sisa pembagian dengan 5 untuk menentukan pasaran.

Proses (konseptual): hitung jumlah hari dari tanggal acuan ke tanggal yang dicari → bagi 5 untuk pasaran, bagi 7 untuk hari → cocokkan sisanya dengan urutan siklus. Penghitungan hari memakai basis tengah hari (noon) UTC agar stabil dan akurat untuk semua tanggal, termasuk sebelum tahun 1970 dan lintas zona waktu.

Neptu adalah penjumlahan nilai hari dan nilai pasaran. Nilai hari: Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9. Nilai pasaran: Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, Kliwon 8. Nilai neptu weton berkisar antara 7 dan 18.

Cara Menghitung Wuku

Wuku adalah siklus 30 pekan dalam sistem pawukon Jawa. Setiap wuku berlangsung tujuh hari, sehingga satu putaran penuh berlangsung 210 hari (30 × 7) sebelum kembali ke wuku pertama.

  • Siklus — 30 wuku berurutan, dari Sinta hingga Watugunung.
  • Mengapa berulang — setelah wuku ke-30 (Watugunung), siklus kembali ke wuku pertama (Sinta), berputar tanpa henti setiap 210 hari.
  • Pergantian — satu wuku berlangsung tujuh hari dan berganti setiap hari Minggu.
  • Titik acuan — wuku dihitung dari jumlah pekan sejak tanggal acuan yang wukunya diketahui.

Untuk daftar lengkap 30 wuku, lihat halaman Wuku.

Cara Konversi Tanggal Hijriah

Tanggal Hijriah dikonversi secara astronomis (hisab) dari tanggal Masehi. Metode ini menghasilkan tanggal yang konsisten dan dapat diprediksi.

  • Perhitungan astronomis (hisab) — yang kami gunakan untuk menampilkan tanggal Hijriah harian sebagai referensi.
  • Penetapan resmi (rukyat) — penetapan awal bulan untuk ibadah mengikuti keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat, yang dapat berbeda satu hari dari hisab.

Karena itu, tanggal Hijriah di situs ini cocok sebagai referensi, sedangkan untuk penentuan ibadah dan hari raya sebaiknya mengikuti pengumuman resmi. Perbedaan metode dijelaskan lebih lanjut pada halaman Referensi.

Cara Kami Memperbarui Hari Libur

Data hari libur nasional dan cuti bersama diperbarui setelah SKB 3 Menteri resmi diterbitkan pemerintah.

  • Sebelum SKB baru terbit — kami menampilkan data tahun berjalan; tanggal libur keagamaan tahun berikutnya yang belum ditetapkan tidak disajikan sebagai kepastian.
  • Setelah pengumuman resmi — bila terdapat perubahan atau penambahan tanggal, data disesuaikan mengikuti keputusan resmi terbaru.

Pembaruan Harian

Halaman "hari ini" — seperti weton hari ini dan dasbor beranda — dihitung ulang secara otomatis setiap hari berdasarkan zona waktu WIB (Asia/Jakarta), sehingga selalu menampilkan tanggal yang sedang berjalan tanpa perlu pembaruan manual.

Verifikasi & Koreksi

Perhitungan tidak hanya dijalankan, tetapi juga diperiksa. Proses editorial kami mencakup:

  • Validasi historis — hasil dicocokkan dengan tanggal acuan yang diketahui. Sebagai contoh, 17 Agustus 1945 jatuh pada weton Jumat Legi, dan mesin kami menghasilkan weton yang sama.
  • Pemeriksaan silang — data resmi seperti hari libur dicocokkan dengan sumber penerbitnya (lihat Referensi).
  • Peninjauan manual — konten diperiksa secara berkala oleh tim editorial.
  • Koreksi dari pengguna — laporan kesalahan yang disertai sumber resmi kami tinjau dan perbaiki sesegera mungkin.

Keterbatasan Metodologi

Kami terbuka mengenai batas-batas metode ini:

  • Kalender Jawa historis — nilai penanggalan Jawa untuk tanggal yang sangat jauh di masa lampau bergantung pada titik acuan (kurup) yang digunakan. Sistem modern (Asapon) tidak terhubung ke acuan lama melalui hitungan hari yang tunggal dan berkelanjutan, sehingga perhitungan paling akurat untuk tanggal masa kini dan tidak dimaksudkan untuk tanggal berabad-abad lampau. Sebagian daerah yang mengikuti kurup berbeda (misalnya Aboge) dapat berselisih satu hari.
  • Tanggal Hijriah — hasil hisab dapat berbeda satu hari dari penetapan resmi berbasis rukyat.
  • Hari libur pemerintah — dapat berubah setelah terbitnya keputusan resmi yang baru.
  • Sifat perhitungan — kalkulator mengandalkan aturan yang terdokumentasi; interpretasi budaya seperti makna weton bersifat tradisi, bukan hasil perhitungan ilmiah.

Riwayat Perubahan

Halaman ini akan mencatat perubahan penting pada metodologi seiring waktu:

  • 26 Juli 2026 — Halaman metodologi diperluas: dokumentasi perhitungan wuku, proses verifikasi, dan bagian keterbatasan ditambahkan.

Perubahan berikutnya akan dicatat di sini beserta tanggalnya.

Semua sumber yang digunakan untuk metode di halaman ini dijelaskan lebih lanjut pada halaman Referensi.

Terakhir diperbarui: 26 Juli 2026
Ditinjau oleh: Tim Editorial KalenderLengkap.id