Kalender Jawa Lengkap: Panduan Weton, Pasaran, Wuku & Penanggalan Jawa
Versi 1.0 · Diperbarui 25 Juli 2026
Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang menggabungkan unsur kalender Hijriah dengan siklus pasaran lima hari khas Jawa, dan masih digunakan hingga saat ini dalam berbagai tradisi keluarga dan budaya.
Apa itu Kalender Jawa
Kalender Jawa masih dipakai secara luas di Indonesia, bukan sebagai pengganti kalender Masehi melainkan sebagai pelengkap. Banyak keluarga memakainya untuk menandai weton kelahiran, menentukan tanggal upacara adat, serta memperingati hari-hari penting dalam keluarga.
Berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti peredaran matahari, kalender Jawa mengikuti peredaran bulan. Ciri khasnya adalah dua siklus yang berjalan bersamaan: pekan tujuh hari yang kita kenal sehari-hari (saptawara), dan siklus pasaran lima hari yang hanya ada dalam penanggalan Jawa (pancawara). Untuk memahami kaitannya dengan penanggalan Islam, lihat Kalender Hijriah Indonesia.
Mengapa kalender Jawa masih digunakan
Empat alasan paling umum orang membuka penanggalan Jawa hari ini.
Sejarah singkat
Perkembangan penanggalan Jawa dari sistem Saka menuju bentuk yang dikenal sekarang.
Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga Kesultanan Mataram Islam yang memerintah pada 1613–1645, mengeluarkan dekret yang mengganti dasar perhitungan kalender dari peredaran matahari menjadi peredaran bulan. Angka tahun Saka tetap diteruskan demi kesinambungan, sehingga tahun 1555 Saka berlanjut menjadi tahun 1555 Jawa. Dekret ini berlaku di seluruh Jawa dan Madura, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan.
Bagaimana kalender Jawa bekerja
Enam lapisan yang menyusun satu tanggal Jawa, dari hari Masehi hingga tahun Jawa.
Bulan Jawa dan Tahun Jawa untuk sementara belum ditampilkan. Perhitungannya sedang disempurnakan agar sesuai dengan siklus windu delapan tahun dalam penanggalan Jawa. Fitur ini akan tersedia setelah proses validasi selesai.
Lima pasaran Jawa
Siklus lima hari yang berjalan berdampingan dengan pekan tujuh hari.
Pasaran pertama dalam siklus lima hari.
Menentukan weton bersama hari Masehi.
Lihat weton LegiPasaran dengan nilai neptu tertinggi.
Dipakai dalam penanggalan pasar tradisional.
Lihat weton PahingPasaran ketiga dalam siklus.
Digunakan pada perhitungan weton dan wuku.
Lihat weton PonPasaran dengan nilai neptu terendah.
Menjadi penanda hari pasaran di sebagian daerah.
Lihat weton WagePasaran penutup siklus lima hari.
Dikenal luas dalam tradisi penanggalan Jawa.
Lihat weton KliwonPasaran selalu berputar setiap lima hari dan digabungkan dengan siklus tujuh hari untuk membentuk weton. Untuk melihat pasaran hari ini beserta wetonnya, buka Weton Hari Ini.
Sering keliru: pasaran bukan nama hari. Senin dan Selasa adalah hari dalam pekan tujuh hari; Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon adalah pasaran dalam siklus lima hari. Keduanya berjalan bersamaan, bukan menggantikan satu sama lain.
Peran pasaran dalam tradisi Jawa. Dalam berbagai tradisi Jawa, pasaran digunakan bersama weton dan neptu sebagai bagian dari sistem penanggalan budaya. Berbagai daerah dan keluarga dapat memiliki penafsiran yang berbeda. Halaman ini berfokus pada penjelasan sistem penanggalan dan tidak menilai atau memverifikasi kepercayaan tersebut.
Apa itu weton
Gabungan hari Masehi dan pasaran Jawa.
Karena tujuh hari dikombinasikan dengan lima pasaran, terdapat 35 weton yang mungkin, dan satu weton berulang setiap 35 hari. Weton banyak dicari untuk keperluan tradisi keluarga seperti penentuan hari upacara adat, peringatan kelahiran, dan peringatan tahunan. Daftar lengkapnya tersedia di 35 Weton Jawa Lengkap, dan langkah perhitungannya dijelaskan pada Cara Menentukan Weton.
| Hari | Pasaran | Weton | Neptu |
|---|---|---|---|
| Senin | Legi | Senin Legi | 9 |
| Selasa | Pon | Selasa Pon | 10 |
| Rabu | Wage | Rabu Wage | 11 |
| Kamis | Kliwon | Kamis Kliwon | 16 |
| Jumat | Pahing | Jumat Pahing | 15 |
| Sabtu | Legi | Sabtu Legi | 14 |
| Minggu | Wage | Minggu Wage | 9 |
Apa itu neptu
Nilai angka yang melekat pada setiap hari dan pasaran, lalu dijumlahkan.
Neptu adalah nilai numerik yang diberikan pada setiap hari dan setiap pasaran. Nilai hari dan nilai pasaran dijumlahkan untuk memperoleh neptu sebuah weton. Neptu merupakan satu komponen dalam penanggalan Jawa, bukan keseluruhan sistemnya.
Neptu hari
| Hari | Neptu |
|---|---|
| Minggu | 5 |
| Senin | 4 |
| Selasa | 3 |
| Rabu | 7 |
| Kamis | 8 |
| Jumat | 6 |
| Sabtu | 9 |
Neptu pasaran
| Pasaran | Neptu |
|---|---|
| Legi | 5 |
| Pahing | 9 |
| Pon | 7 |
| Wage | 4 |
| Kliwon | 8 |
Contoh perhitungan
Wuku
Siklus tiga puluh pekan yang hanya ada dalam penanggalan Jawa.
Siklus 210 hari
Wuku adalah siklus tiga puluh pekan. Setiap wuku berlangsung tujuh hari, sehingga satu putaran penuh memakan waktu 210 hari sebelum kembali ke wuku pertama, Sinta.
Hari ini berada pada wuku Pahang, urutan ke-16 dari 30.
Kalender Jawa dan kalender Hijriah
Persamaan dan perbedaan tiga sistem penanggalan yang dipakai di Indonesia.
| Aspek | Kalender Jawa | Kalender Hijriah | Kalender Masehi |
|---|---|---|---|
| Dasar sistem | Lunar (bulan) | Lunar (bulan) | Solar (matahari) |
| Jumlah bulan | 12 | 12 | 12 |
| Panjang tahun | 354–355 hari | 354–355 hari | 365–366 hari |
| Awal tahun | 1 Sura | 1 Muharam | 1 Januari |
| Siklus khas | Pasaran 5 hari, wuku 210 hari | Pekan 7 hari | Pekan 7 hari |
| Siklus kabisat | 3 tahun per windu (8 tahun) | 11 tahun per 30 tahun | 1 tahun per 4 tahun |
| Penggunaan utama | Tradisi & budaya Jawa | Ibadah & hari besar Islam | Administrasi & sipil |
Karena keduanya berbasis peredaran bulan, tanggal Jawa dan tanggal Hijriah bergerak beriringan. Perbedaan pola tahun kabisat membuat keduanya dapat bergeser dalam jangka panjang. Untuk konversi tanggal, lihat Kalender Hijriah Indonesia.
Kalender Jawa hari ini
Informasi Bulan Jawa dan Tahun Jawa sedang disempurnakan agar sesuai dengan perhitungan penanggalan Jawa yang berlaku. Fitur ini akan tersedia setelah proses validasi selesai.
Alat terkait
Lima kalkulator yang memakai perhitungan yang sama dengan halaman ini.
Unduhan
Tahukah Anda
Artikel terkait
Pertanyaan yang sering diajukan
25 pertanyaan seputar kalender Jawa, weton, pasaran, neptu, dan wuku.
Apa itu Kalender Jawa?
Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang menggabungkan penanggalan Hijriah dengan siklus pasaran lima hari khas Jawa. Sistem ini memakai dua siklus yang berjalan bersamaan: pekan tujuh hari (saptawara) dan pasaran lima hari (pancawara).
Bagaimana cara membaca Kalender Jawa?
Setiap tanggal memiliki dua penanda: hari dalam pekan tujuh hari, dan pasaran dalam siklus lima hari. Gabungan keduanya disebut weton. Misalnya hari Jumat yang bertepatan dengan pasaran Pahing dibaca sebagai Jumat Pahing.
Apa itu Weton?
Weton adalah gabungan hari Masehi dan pasaran Jawa. Karena tujuh hari dikombinasikan dengan lima pasaran, terdapat 35 weton yang mungkin, dan satu weton berulang setiap 35 hari.
Apa itu Pasaran?
Pasaran adalah siklus lima hari dalam penanggalan Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus ini berjalan berdampingan dengan pekan tujuh hari, bukan menggantikannya.
Apa itu Neptu?
Neptu adalah nilai angka yang melekat pada setiap hari dan setiap pasaran. Nilai hari dan nilai pasaran dijumlahkan untuk memperoleh neptu sebuah weton. Neptu adalah satu komponen dalam penanggalan Jawa, bukan keseluruhan sistemnya.
Apa itu Wuku?
Wuku adalah siklus tiga puluh pekan dalam penanggalan Jawa. Setiap wuku berlangsung tujuh hari, sehingga satu putaran penuh memakan waktu 210 hari sebelum kembali ke wuku pertama, Sinta.
Berapa jumlah Wuku?
Terdapat 30 wuku. Dikalikan tujuh hari per wuku, satu siklus penuh berlangsung 210 hari.
Berapa jumlah Pasaran?
Terdapat lima pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus ini berulang setiap lima hari tanpa terputus.
Apakah Kalender Jawa masih digunakan?
Ya. Kalender Jawa masih dipakai secara luas sebagai pelengkap kalender Masehi, terutama untuk menandai weton kelahiran, upacara adat, peringatan tahunan, dan sebagian tradisi pertanian.
Apa hubungan Kalender Jawa dan Kalender Hijriah?
Sejak reformasi Sultan Agung pada 1633, kalender Jawa memakai dasar perhitungan bulan (lunar) yang mengikuti sistem Hijriah, sementara angka tahunnya meneruskan penanggalan Saka. Karena itu keduanya bergerak beriringan meski angka tahunnya berbeda.
Siapa Sultan Agung?
Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah raja ketiga Kesultanan Mataram Islam yang memerintah pada 1613–1645. Ia menetapkan sistem penanggalan Jawa yang dikenal sekarang, sehingga kalender ini juga disebut Kalender Sultan Agungan.
Apa itu bulan Sura?
Sura adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa, sejajar dengan Muharam dalam kalender Hijriah. Namanya diambil dari Asyura, yang merujuk pada tanggal 10 Muharam.
Bagaimana cara menghitung Weton?
Tentukan hari Masehi dari tanggal yang dimaksud, lalu tentukan pasarannya berdasarkan siklus lima hari. Gabungan keduanya adalah weton. Cara tercepat adalah memakai kalkulator Cek Weton di situs ini.
Bagaimana mengetahui pasaran hari ini?
Pasaran hari ini ditampilkan pada bagian Kalender Jawa Hari Ini di halaman ini, dan diperbarui otomatis setiap hari.
Apakah Weton seseorang berubah?
Tidak. Weton kelahiran ditentukan oleh tanggal lahir dan bersifat tetap. Yang berulang adalah weton harian, yang kembali ke kombinasi sama setiap 35 hari.
Apa fungsi Neptu?
Neptu memberi nilai angka pada hari dan pasaran sehingga sebuah weton dapat dinyatakan sebagai satu bilangan. Nilai ini dipakai dalam berbagai perhitungan tradisi Jawa.
Apakah Kalender Jawa sama dengan Kalender Saka?
Tidak sama. Sebelum 1633 masyarakat Jawa memakai kalender Saka yang berbasis peredaran matahari. Sultan Agung mengganti dasar perhitungannya menjadi berbasis bulan, namun tetap meneruskan angka tahun Saka yang saat itu menunjuk tahun 1555.
Mengapa Kalender Jawa penting?
Kalender Jawa merekam cara masyarakat Jawa menyusun waktu dan menandai peristiwa penting. Sistem ini masih menjadi rujukan dalam banyak tradisi keluarga dan menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.
Apakah semua daerah Jawa memakai sistem yang sama?
Dasar sistemnya sama, tetapi terdapat perbedaan penerapan antar daerah dan tradisi. Beberapa kelompok memakai kurup Aboge, sebagian lain memakai Asapon, yang dapat menghasilkan selisih satu hari. Halaman ini menjelaskan sistem umumnya dan tidak memihak satu tradisi.
Bagaimana cara melihat Kalender Jawa online?
Bagian Kalender Jawa Hari Ini di halaman ini menampilkan pasaran, weton, neptu, dan wuku secara otomatis. Untuk tanggal lain, gunakan kalkulator Cek Weton.
Apakah tersedia Kalender Jawa dalam bentuk PDF?
Tersedia tabel weton dan neptu dalam format PDF pada bagian Unduhan di halaman ini. Untuk kalender tahunan dan bulanan, kunjungi Pusat Unduhan Kalender.
Apakah Kalender Jawa tersedia untuk tahun 2027?
Ya. Perhitungan pasaran, weton, dan wuku tidak bergantung pada penetapan pemerintah, sehingga seluruh tanggal 2027 sudah dapat dilihat pada halaman Kalender 2027 beserta dua belas halaman bulanannya.
Bagaimana hubungan Wuku dan Weton?
Keduanya adalah siklus yang berjalan bersamaan namun terpisah. Weton berulang setiap 35 hari, sedangkan wuku berulang setiap 210 hari. Satu tanggal memiliki weton sekaligus wuku.
Apa perbedaan hari Masehi dan pasaran?
Hari Masehi adalah siklus tujuh hari yang dipakai sehari-hari, dari Minggu sampai Sabtu. Pasaran adalah siklus lima hari khas Jawa. Keduanya berjalan bersamaan, sehingga setiap tanggal memiliki keduanya sekaligus.
Di mana saya bisa mengecek Weton secara online?
Gunakan kalkulator Cek Weton di situs ini. Masukkan tanggal lahir dan hasilnya menampilkan weton, pasaran, neptu, serta wuku.
Sumber & penyusunan
Rujukan dikelompokkan menurut jenisnya.
- Pasaran, weton, neptu, dan wuku dihitung oleh mesin kalender Kalender Lengkap
- Konversi Hijriah mengikuti penetapan resmi pemerintah Indonesia
- Lihat metodologi perhitungan
- Tanggal 8 Juli 1633 dihitung sebagai Jumat Legi, sesuai catatan sejarah
- Siklus wuku diuji: 30 wuku, berulang tepat setiap 210 hari
- Ditinjau berkala oleh tim Kalender Lengkap
Versi 1.0 · Dipublikasikan 24 Juli 2026 · Diperbarui 25 Juli 2026 · Ditinjau tim Kalender Lengkap